Berita  

Harganas 2026 “Peran Ayah dalam Menghadapi Era Vuca”

Mamuju, Memperingati Peringatan Hari Keluarga Nasional Tingkat Kabupaten Mamuju, digelar melalui Upacara Bendera, Senin (29 Juni 2026). Upacara dipusatkan di Halaman Kantor Bupati Mamuju, bertindak sebagai Pembina Upacara Bupati Mamuju yang diwakili oleh Asisten Pemerintahan dan Kesra Setdakab. Mamuju Abd. Rasyid, SE. Peserta Upacara dihadiri pula para Pejabat Eselon II. III dan IV serta staf dari seluruh Perangkat Daerah Kabupaten Mamuju

Asisten Pemkesra yang membacakan pidato seragam Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional menyampaikan
Peradaban modern yang bergerak dengan kecepatan belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah umat manusia. Para ahli menyebut zaman ini sebagai Era Vuca, sebuah lanskap global yang dicirikan oleh gejolak perubahan yang begitu cepat, Uncertainty yakni ketidakpastian yang tinggi, serta Complexity yaitu kerumitan masalah yang saling bertautan, dan Ambiguity yang artinya kebingungan arah. Di era vuca ini, tantangan yang dihadapi oleh sebuah keluarga bukan lagi sekadar tantangan konvensional pemenuhan kebutuhan fisik semata. Hari ini, tantangan ekonomi makro, disrupsi teknologi digital yang radikal, pergeseran nilai-nilai sosial, hingga ancaman siber, masuk secara langsung dan tanpa permisi ke ruang-ruang keluarga kita melalui gawai yang ada di genggaman anak-anak kita.

“Jika keluarga kita rapuh, jika ketahanan dasar kita keropos, maka arus zaman yang serba tidak menentu ini akan dengan sangat mudah menggilas masa depan anak-anak kita, memecah belah keharmonisan suami istri, dan menghancurkan tatanan moral generasi penerus. Oleh karena itu, saya tegaskan bahwa ketangguhan keluarga bukanlah sebuah pilihan alternatif yang bisa kita tunda-tunda. Ketangguhan keluarga adalah sebuah keharusan mutlak, sebuah urgensi nasional yang tidak boleh ditawar lagi jika kita ingin bangsa ini tetap berdiri tegak di tengah badai perubahan global”.

Sejalan dengan tema Harganas Tahun ini Yakni “Ayah Wajib Hadir” maka upaya perbaikan kualitas sumberdaya manusia dan penguatan karakter ini mustahil terwujud jika beban pengasuhan hanya diletakkan di atas pundak para ibu sendirian. Oleh karena itu, pada momentum Hari Keluarga Nasional yang sangat berharga ini, saya ingin mengetuk hati dan kesadaran para kepala keluarga di seluruh pelosok negeri. Saya ingin menyampaikan pesan yang sangat mendalam dan serius kepada para ayah di seluruh Indonesia.

“Peran ayah dalam rumah tangga bukan sekadar sebagai mesin pencari nafkah materi. Tugas ayah tidak selesai ketika telah mengirimkan uang belanja atau membayar biaya sekolah. Keterlibatan aktif, kehadiran fisik, dan kedekatan emosional seorang ayah dalam proses pengasuhan anak adalah faktor determinan bagi pembentukan struktur kepribadian dan kestabilan emosi anak-anak kita. Kita tidak boleh membiarkan anak-anak tumbuh dalam fenomena yang disebut ‘Fatherless Country’—sebuah kondisi di mana secara fisik ayah mereka ada di rumah, namun secara psikologis dan spiritual sosok ayah itu absen dari kehidupan anak. Anak-anak yang kehilangan figur ayah cenderung tumbuh dengan kerentanan emosional, kurang percaya diri, dan lebih rentan terpengaruh oleh hal-hal negatif di luar rumah.

Untuk itu, kepada seluruh orang tua di Indonesia, tangkal semua ancaman ini dari dalam rumah kita sendiri, jangan tunggu sampai anak kita menjadi korban atau pelaku baru kita menangis menyesal. Benteng pertahanan terbaik adalah ketahanan keluarga. Hidupkan kembali fungsi keagamaan di rumah, ajarkan nilai-nilai moral secara konsisten. Jadikan rumah kita sebagai tempat yang paling aman, paling nyaman, dan paling dirindukan oleh anak-anak kita, sehingga ke mana pun mereka pergi melangkah, magnet kehangatan keluarga akan selalu menarik mereka untuk pulang ke jalan yang benar.

(Diskominfosip/RN)