MAMUJU — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai bisa menjadi pasar baru bagi petani dan peternak di Kabupaten Mamuju. Kebutuhan bahan pangan untuk dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dapat dimanfaatkan untuk menyerap hasil produksi masyarakat secara rutin.
Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Mamuju Yuki Permana saat menghadiri Peresmian SPPG Wilayah 3T dan Prevalensi Stunting Tinggi di 16 Provinsi Indonesia Timur, di Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, Jumat (2/10/2026).
Menurut Yuki, besarnya kebutuhan bahan pangan untuk MBG seharusnya tidak hanya dipenuhi dari wilayah perkotaan. Petani dan peternak di sekitar lokasi SPPG perlu mendapat ruang untuk memasok kebutuhan dapur, mulai dari sayuran, telur, hingga daging ayam.
Jika penyerapan produk lokal berjalan konsisten, MBG dapat memberikan kepastian pasar bagi hasil pertanian dan peternakan masyarakat. Petani tidak hanya memproduksi untuk pasar umum, tetapi juga memiliki peluang memasok kebutuhan program yang berlangsung secara berkelanjutan.
“Kalau bahan pangan dari kota dikirim ke daerah terpencil, ada risiko kualitasnya menurun,” kata Yuki.
Ia menjelaskan, pengiriman bahan pangan segar dari kota menuju wilayah terpencil menghadapi kendala jarak dan transportasi. Telur dan daging ayam, misalnya, berisiko mengalami penurunan kualitas apabila menempuh perjalanan panjang dengan kondisi distribusi yang tidak memadai.
Karena itu, Pemkab Mamuju mendorong pengelola SPPG memprioritaskan penyerapan bahan pangan dari masyarakat di sekitar lokasi dapur. Pemerintah juga telah berkoordinasi dengan Kodim, Polres, Forkopimda, dan unsur terkait untuk memperkuat rantai pasok pangan di wilayah terpencil.
Bagi petani, skema tersebut dapat membuka peluang peningkatan nilai ekonomi hasil produksi. Hasil panen yang sebelumnya bergantung pada pasar harian dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan SPPG, selama jumlah, kualitas, dan kontinuitas produksinya sesuai standar.
Namun, Yuki mengatakan petani dan peternak perlu dipersiapkan agar mampu memenuhi persyaratan yang ditetapkan SPPG. Edukasi mengenai kualitas produk, standar keamanan pangan, hingga kesinambungan pasokan menjadi hal yang penting.
“Jangan sampai kebutuhan ada, tetapi produk lokal belum siap memenuhi standar yang dipersyaratkan,” ujarnya.
Saat ini, lima titik SPPG di wilayah kepulauan Mamuju disebut telah siap dioperasikan. Tiga titik lainnya, termasuk kawasan Salissingan, telah selesai dibenahi dan diharapkan segera beroperasi.
Dengan bertambahnya titik SPPG, kebutuhan bahan pangan juga berpotensi meningkat. Pemkab Mamuju ingin peluang tersebut dapat diisi oleh petani dan peternak lokal sehingga manfaat program MBG tidak berhenti pada penerima makanan bergizi.
Di tingkat masyarakat, rantai tersebut dapat membentuk perputaran ekonomi: SPPG membeli bahan pangan dari petani dan peternak, produk lokal masuk ke menu MBG, sementara pendapatan dari penjualan kembali berputar di lingkungan masyarakat.
Karena itu, penguatan rantai pasok lokal menjadi salah satu bagian penting dalam perluasan MBG di Mamuju—bukan hanya untuk menjaga kualitas bahan pangan, tetapi juga agar petani dan peternak lokal ikut merasakan manfaat ekonomi dari program tersebut.
(Diskominfosip/AS)
